Profile

03 Januari 2013 |
01:56:10




Sejarah PKHS

Keberadaan PKHS tidak dapat terlepas dari sejarah penelitian harimau Sumatera di Indonesia. Di akhir tahun 1995 telah dimulai kegiatan penelitian harimau Sumatera di TN. Way Kambas dengan nama Proyek Penyelamatan Harimau Sumatera (Sumatran Tiger Project~STP) yang berakhir pada thaun 1999. Kemudian pada tahun 2002 kegiatan tersebut dikembangkan dengan nama Program Konservasi Harimau Sumatera (PKHS), dengan lokasi  kegiatan selain di TN. Way Kambas (Propinsi Lampung) juga di TN. Bukit Tigapuluh (Propinsi Riau-Jambi) juga di kawasan Konservasi Harimau Senepis (KKH Senepis) sampai berakhir pada tahun 2007.

Selanjutnya Program Konservasi Harimau Sumatera dikembangkan menjadi sebuah yayasan dengan nama Yayasan Penyelamatan dan Konservasi Harimau Sumatera (PKHS). Yayasan Penyelamatan dan Konservasi Harimau Sumatera (Yayasan PKHS) berdiri pada tanggal 10 Mei 2007 dengan nomor register di Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia nomor: C-1526.HT.01.02.TH.2007.

Pada tanggal 29 Juni 2007  telah ditandatangani perjanjian kerjasama antara Yayasan PKHS  dengan Sumatran Tiger Trust  dan Wildlife Protection Foundation untuk pendanaan pelaksanaan kegiatan PKHS. Juga disepakati hubungan yang lebih erat antara PKHS dan pihak pendana  dengan meluncurkan Program Konservasi Harimau Sumatera/ Sumatran Tiger Trust Conservation Programm (PKHS/STTCP). Dengan program ini disepakati bahwa kedua pihak seperti dua sisi mata uang. Yayasan PKHS akan melakukan kegiatan konservasi harimau Sumatera dan penggalangan dana di Indonesia sedangkan STT dan WPF akan melakukan kegiatan konservasi harimau Sumatera dan penggalangan dana di luar Indonesia.

Visi:   
  1. Harimau Sumatera lestari di habitat alaminya
  2. Terwujudnya masyarakat  yang sejahtera dan mendukung keberadaan  serta kelestarian hidupan liar dan keberadaan kawasan konservasi.
  3. Pembangunan dan pemanfaatan hasil hutan yang lestari

Misi:

  1. Mendukung Departemen Kehutanan dalam menjaga kelestarian harimau Sumatera, hewan mangsa dan habitat alaminya.
    • Bentuk kegiatan: monitoring, perlindungan, dan penanganan konflik.
  2. Meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan kesadaran masyarakat khususnya  yang tinggal di sekitar dan dalam kawasan konservasi.
    • Bentuk kegiatan: penyuluhan dan pendidikan konservasi.
  3. Mendorong pembangunan, penggunaan dan pemanfaatan hasil hutan yang lebih memperhatikan kelestarian kehidupan alami.
    • Bentuk kegiatan: Advokasi.